Berpuluh-puluh kota telah kusuri
wajahmu mengingatkanku pada sejarah
yang tak akan pernah bisa kusinggahi lagi
tapi kenapa engkau diam membisu di sudut kota
menunggu kereta malam membawamu pergi
Surabaya, 1 Juni 2012
***
Bagi saya, sebuah kota pasti selalu memiliki keunikan. Hal yang paling saya sukai saat traveling: menyusuri sudut keriputnya. Di Kabupten Tebo, sekitar 5 jam perjalanan dari Jambi ke arah Bukit Tinggi, ada satu sudut tua di pasar....
Di Muara Bungo, sekitar 6 jam perjalanan darat dari Jambi, juga memiliki sudut kota tua di jalan Dahlia. Di kota Jambinya sendiri, di dekat Ancol - pinggiran sungai Batanghari, kita bisa melihat toko-toko berwajah keriput tapi menyimpan banyak hal.
Di Palembang, di Lorong Dua, di Sepatan Lama, di Pasar Sekanak, di sepanjang sungai Musi, kita bisa menemukan wajah lama Palembang. Di Muntok, Bangka Belitong, dan Jl. Ahmad Yani, Medan, di seputaran Kantor Post, tubuh keriput sebuah kota tergambar jelas di sana. Mengundang selera untuk mengenalnya lebih dalam lagi.
Indonesia yang kita cintai ini memiliki banyak sudut-sudut kota tua, yang bisa menghipnotis pikiran kita. Saatnya bersama-sama merawatnya. Jangan sampai hancur kota tua di Jakarta utara, kawasasan gereja Blenduk di Semarang. Itu zadalah bagian dari menumbuhkan derajat atau martabat kita sebagai bangsa yang besar. "Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya!" begitu Bung Karno pernah mengatakan. Bahkan Bung Karno menambahkan, "Jasmerah - jangan sekali-kali melupakna sejarah!"
Jika kita kreatif, kota tua di kampung kita bisa kita maksimalkan, kita olah menjadi "wisata kota tua". Asep Khambali, pendiri Komunitas Historia, melakukannya. Komunitas Sejarah Banten juga melakukannya. setiap pekan, mereka touring menyusuri sudut-sudut masa lalu di kota kita.
Mari.... (*)


















