Saya tidak menyangka kalau berkunjung lagi ke Bengkulu pada 7 - 9 Juli 2012 untuk memberi pelatihan "Be a Travel Writer" bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Bengkulu. Bagi saya, Bengkulu adalah kota dimana cinta Bung Karno (BK) dan Fatmawati bersemi. Memang ada wanita yang dikecewakan. Tapi, BK melakukannya karena ingin memiliki keturunan. Tapi, terlepas dari persoalan cinta mereka, bagi saya ada yang lebih penting lagi, yaitu semangat BK yang tak pernah padam walaupun Belanda membuangnya ke Bengkulu. Saat saya berkunjung ke rumah pembuangan BK, terasa sekali aroma perjuangan seorang warga Indonesia, yang rela berkorban dibuang demi bangsa dan tanah airnya, yaitu Indonesia....
Saya datang ke Bengkulu pada Sabtu 7 Juli, sekitar pukul 16:00 WIB. Saya dijemput Firdaus, bagian pemasaran koran Bengkulu Express. Setelah check in di Hotel SS, saya diajak Mildaini - Ketua FLP Bengkulu - ke Radio Universitas Bengkulu untuk talk show tentang workshop "Be a Travel Writer". Seusai acara, ada beberapa orang pembaca novel saya; Balada Si Roy. Mereka tidak menyangka saya ada di sini. Kami berfoto-foto dan saling bertukar cerita.
Malam Minggunya, sebagai Presiden Taman Bacaan Masyarakat, saya bersilaturahmi dengan para pengurus Taman Bacaan Masyarakat Provinsi Bengkulu. Kami makan malam di pantai Panjang. Tempatnya mengasyikkan. Saat sedang makan bakso, Tias Tatanka - menelepon, "Pah, ada gempa di Bengkulu utara. Ada di running text!" Hmm. Padahal kami di Bengkulu tenang-tenang saja.
Minggu pagi, pukul 09:00 - 12:00, workshop berlangsung di gedung Batik, Universitas Bengkulu. Sekitar 80 peserta antusias mengikuti workshop. Saya membagi-bagikan doorprize buku kepada para peserta yang aktif merespon tentang dunia traveling. Chicha Ke, peserta workshop, merasa gembira bisa mendapatkan doorprize bundel "Balada Si Roy". (*)


















