Di kampung saya, setiap orang yang ingin naik kelas, masuk kuliah ke perguruan tinggi negeri, diterima bekerja, naik jabatan, atau jadi anggota dewan ada jalan pintas yang bisa dilalui; yaitu dengan memakai uang pelicin alias suap atau dengan cara menyakiti orang lain alias saling sikut. Ternyata hal itu pun terjadi di Ka'bah alias rumah Allah di Masjidil harram, Makkah. Saya sedih ketika menyaksika secara langsung: setiap orang yang secara baik-baik ingin mencium Hajjar Aswad seperti halnya Nabi Muhammad dulu, dikondisikan secara paksa harus membayar 100 Real kepada "joki". Bahkan teman sesama umroh ditawari 300 hingga 500 Real. Sya sedih. Lebih sedih lagi, yang menawarinya orang Indonesia.....
Saya pernah mengatakan kepada "joki" Hajjar Aswad itu, agar istighfar. Mereka menatap saya dengan marah. Oh, negeriku! Di negeri Arab kita sering dilecehkan sxebagai "negeri babu". Eh, di Masjidil Harram, malah ada juga para lelaki sontoloyo yang mengkomersilkan Hajjar Aswad. Sebaiknya Pemerintah Indonesia lewat KBRI, memulangkan orang-orang yagn menjadi "joki" Hajjar Aswad! Bagaimana Departemen Agama dan Majeis Ulama Indonesia? Apakah mereka sudah bosan megningatkan atau malah mendiamkan?
Kalau kita tidak ingin membayar sekian rartus Real, berarti harus mau berdesakkan saling sikut menyakiti orang lain. Polisi Saudi yang berjaga memang mengusir atau memperingatkan, tapi saya menilai polisi itu tidak berniat menghilangkan praktek tidak terpuji itu.
Kenapa ingin mencium Hajjar Aswad harus dikomersilkan? Kenapa Pemerintah Saudi membiarkan praktek itu berlangsubg persis di depan rumah Allah? Saya memilih mundur dan tidak mencium Hajjar Aswad. Saya yakin, Nabi Muhammad akan sedih melihatnya jika masih hidup. Saya melihat ke langit, mengadu kepada Allah, "Apa yang hendak kau tunjukkan kerpadakui, ya Allah?"
Dengan berat hati, saya menarik Tias untuk mundur dari "zona perang" itu. Apalagi ketika ingat diskusi saya dengan Gabriel Firmansyah (13 th), anak keduaku, yang pernah mengutip Hadits no 228 Kitab Sahih Muslim, sebelum aku berangkat umroh. “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” Aku cukup bangga juga dengan Gabriel, yang masih sekolah di kelas 1 SMP Peradaban Serang. Untung Tias bisa realistis. Terutama ketika ada seorang pemudua yang begitu bernafsu ingin mencium Hajjar Aswad dengan cara bertumpu ke pundakku dan ke tangan kiri Tias.
Lain kali saja, semoga Allah mengijinkan kami mencium Hajjar Aswad tanpa perlu menyakiti orang lain dan membayar.(*) Foto ini saya ambil beberapa saat menjelang sholat Mahgrib.

















